Popular Posts
-
DIAM KU Karya: N Syifa F Ya, ini tentang kehidupanku Dimana aku memilih diam Saat orang lain bertanggapan Satu kata berjuta makna T...
-
We Love Story Karya : N Syifa F Aku telah bertemu denganmu Ditempat yang berbeda Perasaan ini tak menentu Saat terlalu dekat...
-
Mengapa Tak Dihargai Apa iya tak seharusnya aku disini? Di dunia ini terlalu keras untuk dijalani Kehidupan yang semakin menentangkan ...
Blogger templates
Blogger news
Blogroll
About
Blog Archive
- October 2018 (2)
- September 2018 (4)
Sunday, October 28, 2018
Merindukan Rintikan Hujan
Hey angin . . . . Ku sapa kau yang menyejukkan
Hingga kau menerbangi dedaunan dan ranting - ranting kecil
Kurasakan segenap dinginnya kau hembuskan
Entah bagaimana perasaan akan tersampaikan
Begitulah angin yang berhembusan disore hari
Tetapi coba rasakan panasnya disiang hari
Sinar matahari yang membakar kulit
Gedung - gedung tingkat yang bersilauan
Mereka pejalan kaki yang ingin terus berteduh
Mereka pekerja keras yang lelah akan paparan sinar
Air . . . . Kau mulai berkurang
Tanah persawahan mulai mengering
Siang hari terpaparnya matahari
Lihatlah dan rasakan wahai manusia
Dunia ini mulai memanas
Bagaimana mungkin kalian asyik berfoya
Sedangkan kehidupan ini akan hilang
Terasakan panasnya aparan matahari
Yang ku rasakan kerinduan hujan yang teringat
Bukan mengenang kisah dibalik rintikan hujan
Tetapi rindu akan hujan sebagai kebutuhan
Air sumur mengering . . . .
Jalan - jalan beretakkan bagian - bagiannya
Tanah sawah yang kemarin subur kini pun mengeras
Seperti kerasnya dunia ini, semakin hari bertambah panas
Terdengar kabar daerah sana daerah sini
Telah terjatuhi hujan, rintik - rintik air berjatuhan
Yang ku tunggu adalah kesejukan hujan yang membawa kedamaian
Membawa rezeki dan menjadikan solusi agar tak ada kekeringan
Inilah kerinduan yang selalu menanti hujan
Hey angin . . . . Ku sapa kau yang menyejukkan
Hingga kau menerbangi dedaunan dan ranting - ranting kecil
Kurasakan segenap dinginnya kau hembuskan
Entah bagaimana perasaan akan tersampaikan
Begitulah angin yang berhembusan disore hari
Tetapi coba rasakan panasnya disiang hari
Sinar matahari yang membakar kulit
Gedung - gedung tingkat yang bersilauan
Mereka pejalan kaki yang ingin terus berteduh
Mereka pekerja keras yang lelah akan paparan sinar
Air . . . . Kau mulai berkurang
Tanah persawahan mulai mengering
Siang hari terpaparnya matahari
Lihatlah dan rasakan wahai manusia
Dunia ini mulai memanas
Bagaimana mungkin kalian asyik berfoya
Sedangkan kehidupan ini akan hilang
Terasakan panasnya aparan matahari
Yang ku rasakan kerinduan hujan yang teringat
Bukan mengenang kisah dibalik rintikan hujan
Tetapi rindu akan hujan sebagai kebutuhan
Air sumur mengering . . . .
Jalan - jalan beretakkan bagian - bagiannya
Tanah sawah yang kemarin subur kini pun mengeras
Seperti kerasnya dunia ini, semakin hari bertambah panas
Terdengar kabar daerah sana daerah sini
Telah terjatuhi hujan, rintik - rintik air berjatuhan
Yang ku tunggu adalah kesejukan hujan yang membawa kedamaian
Membawa rezeki dan menjadikan solusi agar tak ada kekeringan
Inilah kerinduan yang selalu menanti hujan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment